May 29, 2014

Referensi Anak Design

Assalammua'alaikum wr.wb

Sekarang postingan gue murni bukan gue yang bikin, tapi yang lo baca ini asli gue yang nulis yeaaa. Oke dibawah ini ada postingan tentang DKV (jengjengjengjeeeeeng) tau gak lo DKV itu apa? Nah makanya baca aja nih dibawah...

Pemanasan 
Pemilihan jurusan pada perkuliahan adalah hal yang sangat penting. Perlu pertimbangan yang matang sebelum memutuskan jurusan apa yang akan dipilih. Dalam memilih jurusan di perguruan tinggi, calon mahasiswa harus mengerti apa minat dan keinginan dirinya sendiri, bukan hanya mengikuti tren yang sedang booming yang belum tentu cocok dengan minat dan kemampuan. Tren masyarakat yang sedang in adalah tentang jurusan Desain Komunikasi Visual. Jurusan tersebut dianggap keren, berteknologi tinggi, dan berjiwa muda. Apalagi dengan sedikitnya mata kuliah eksakta yang membutuhkan kemampuan berpikir yang lebih keras. Sering para mahasiswa baru berkeluh kesah karena jurusan Desain Komunikasi Visual yang dipilihnya, tidak seindah dan semudah yang dibayangkan. Hal tersebut muncul dikarenakan kebanyakan para mahasiswa baru hanya mengikuti tren dan tidak mencari referensi terlebih dahulu bagaimanakah sebenarnya jurusan Desain Komunikasi Visual itu. Maka dari itu, pada artikel ini menjelaskan apa dan bagaimana sebenarnya Desain Komunikasi Visual itu, dan bagaimana jurusan tersebut menjadi tren di kalangan masyarakat khususnya anak muda, dengan tujuan agar para calon mahasiswa yang bingung menentukan jurusan apa yang akan dipilih, tidak salah menentukan jurusan yang akan menjadi dasar pijakan ketika terjun ke dunia profesional. 

 Apa sebenarnya Desain Komunikasi Visual? 
Sering didengar dengan istilah DKV, Desain Komunikasi Visual adalah cabang ilmu desain yang mempelajari konsep komunikasi dan ungkapan kreatif, teknik dan media dengan memanfaatkan elemen visual ataupun rupa untuk menyampaikan pesan untuk tujuan tertentu. Desain Komunikasi Visual tidaklah sama dengan Seni Rupa. Desain Komunikasi Visual bisa dikatakan adalah Seni Rupa yang modern, bukan Seni Rupa murni. Lulusan dari Desain Komunikasi Visual ditujukan untuk menjadi seorang desainer, yang fungsinya melayani konsumen, mematuhi perintah konsumen untuk mewujudkan apa yang diinginkan dari konsumen dan dilarang mengutamakan idealis. Berbeda dari lulusan Seni Rupa, yang ditujukan untuk menjadi seorang seniman murni, yang idealis, berkarya untuk dinikmati dirinya sendiri tanpa mempedulikan perintah konsumen. Metode yang ditekankan dalam pembelajaran Desain Komunikasi Visual adalah praktik, namun tidak menganaktirikan teori yang juga penting dalam menunjang kegiatan praktik. Nirmana, tipografi, dan gambar ilustrasi adalah mata kuliah pokok yang mendasari bagaimana menjadi seorang DKV-er yang baik. Dalam semester awal perkuliahan DKV, mahasiswa DKV belum sepenuhnya diterjunkan kedalam proses pengerjaan desain yang menggunakan komputer. Semua tugas praktik dilakukan dengan proses manual, mulai dari menciptakan huruf dalam mata kuliah tipografi, membuat komposisi dalam mata kuliah nirmana, dan mengilustrasikan sebuah cerita dalam mata kuliah gambar ilustrasi. Setelah itu, mahasiswa DKV ditekankan dalam pematangan konsep dan ide, bagaimana menciptakan sebuah karya yang mempunyai sebuah dasar atau konsep yang kuat, karya yang memiliki nilai estetis yang tinggi, disertai kemampuan pemyampaian maksud dari karya tersebut. Pada semester pertengahan, mahasiswa DKV dihapkan pada pemilihan konsentrasi jurusan. Konsentrasi jurusan adalah pengerucutan minat mahasiswa dalam bidang DKV yang lebih khusus. Beberapa bidang dalam konsentrasi jurusan adalah Animasi untuk mahasiswa yang ingin menjadi animator, Ilustrasi untuk mahasiswa yang ingin menjadi ilustrator, Fotografi untuk yang ingin menjadi fotografer dan masih ada beberapa bidang lagi. Namun, lulusan DKV tidak juga diharuskan berprofesi dengan apa yang mereka pilih dalam konsentrasi penjurusan, dalam mata kuliah kewirausahaan yang ada dalam DKV, diharapkan juga mahasiswa yang sudah lulus nantinya juga bisa membangun sebuah perusahaan dan menjadi seorang wirausahawan. Menjadi mahasiswa DKV, dituntut untuk berpikir berbeda dari pemikiran orang awam atau biasa disebut berpikiran secara Out of The Box. Fungsinya, agar karya yang diciptakan benar-benar baru, spektakuler dan banyak disukai klien. Peluang kerja lulusan DKV sangatlah luas, desainer grafis, sebagai perancang desain visual, ilustrator, sebagai perancang gambar ilustrasi dalam media cetak (koran dan komik), fotografer, dosen, wirausaha, dan masih banyak lagi. Lulusan DKV diberi gelar Sarjana Seni (S.Sn) 

 Kehidupan mahasiswa DKV ? 
Anggapan bahwa DKV itu adalah jurusan yang nyantai, mudah, dan enteng adalah salah. Meskipun tidak ada mata kuliah matematika, fisika, dan kimia, dalam kehidupan manusia DKV, dihadapkan pada permasalahan baru. Selalu berhubungan dengan deadline dan tugas yang tidak ada jedanya. Dalam mata kuliah nirmana dan tipografi contohnya, nirmana, adalah bagaimana caranya membuat sebuah komposisi tanpa makna yang enak dilihat dan benar-benar baru. Sekitar 100 komposisi harus dihasilkan dalam 2 semester. Masih menganggap bahwa DKV itu entengkah? Selain itu ada tipografi, menciptakan huruf yang benar-benar karya sendiri dengan segala syarat yang memagarinya. Belum masuk kedalam digitalisasi, semua proses harus dilakukan secara manual, alias dengan pensil dan kertas. Belum lagi permasalahan biaya tugas yang mencekik, semua tugas hampir pasti menggunakan biaya operasional. Kertas, drawing pen, cat poster, kuas, rapido, bukanlah barang-barang yang murah dan harus dibeli beberapa kali untuk memenuhi tugas. Segala hal tersebut membuat mahasiswa DKV seolah-olah rindu dengan tidur nyenyak, dan otomatis bersahabat dengan jam malam untuk menyelesaikan segala tugas yang diberikan. Meleset dari perkiraan bagaimana sebenarnya perkuliahan DKV saat belum merasakan perkuliahan DKV itu jelas, akan tetapi memang inilah caranya agar ketika lulus nanti bisa menjadi seorang profesional yang bertanggung jawab atas segala pekerjaan yang diberikan. Namun, hal-hal seperti ini sulit dipahami bagi mahasiswa yang daya juangnya kurang spartan. Banyaknya tugas dijadikan sebuah beban yang seolah-olah tidak bisa ditanggung, pada akhirnya bolos kuliah adalah satu-satunya jalan untuk menunda permasalahan yang justru menambah berat beban. Besarnya animo terhadap jurusan DKV tidak diimbangi dengan kualitas karya yang dihasilkan mahasiswanya. Mahasiswa generasi penulis sering mengabaikan proses pengerjaan karya, segalanya ingin dilakukan secara instan dan mudah. Memang tidak semua mahasiswa DKV seperti itu, akan tetapi sudah menjadi mayoritas mahasiswa DKV yang inginnya langsung menjadi desainer tanpa mau melalui proses-proses yang panjang dan berat. Di sisi lain, kurangnya fasilitas yang memadai, tidak adanya galeri khusus untuk melangsungkan pameran karya mahasiswa, juga menghambat pengembangan diri mahasiswa dalam pengungkapan ekspresi yang dituangkan dalam karyanya. 

DKV bisa jadi tren ? Gaul ? 
Perkembangan teknologi sangat pesat dalam satu dekade ini. Alat-alat yang menunjang kebutuhan hidup manusia semakin mutakhir, mode pakaian, gaya desain, dan gaya hidup semakin spektakuler. Hampir seluruh aspek kehidupan membutuhkan sentuhan seorang desainer komunikasi visual. Fenomena ini yang membuka peluang profesi baru yang membutuhkan lulusan DKV. Pada salah satu contoh, lulusan DKV semakin diburu dengan suburnya minat publik pada film yang menggunakan special effect yang logikanya sulit dinalar oleh pemikiran orang awam. Hal inilah yang mendorong jurusan Desain Komunikasi Visual menjadi tren dan tinggi peminat. Karena tinggi peminat, Jurusan Desain Komunikasi Visual di Indonesia perkembangannya sangat pesat, terlihat dari banyaknya universitas yang membuka jurusan Desain Komunikasi Visual. Tidak hanya universitas besar yang sudah punya nama, insitusi ataupun universitas yang masih seumuran jagungpun juga berani membuka jurusan tersebut, entah memang karena fasilitas, infrastruktur dan dosen pengajar yang sudah memadai atau hanya menjadi follower. Sebagai institut yang hanya menjadifollower, tingginya minat pada jurusan DKV ini juga dimanfaatkan sebagai momen untuk meraup pundi-pundi emas yang melimpah. Faktor lain yang menjadikan jurusan DKV menjadi populer dan digilai adalah bayangan calon mahasiswa terhadap mata kuliah DKV. Persepsi awal jurusan DKV adalah jurusan yang ringan, mudah, dan tidak membuat otak berpikir keras. Sedikitnya mata kuliah eksakta dalam DKV-lah yang menimbulkan anggapan-anggapan tersebut. Pemikiran tersebut salah besar, meski mata kuliah DKV yang berbau eksak hanya sedikit, bukan berarti jurusan DKV adalah jurusan yang mudah, ringan, keren dan lain-lain. Keren, inilah yang menjadi faktor utama tingginya peminat pada jurusan Desain Komunikasi Visual. Mengapa keren? Dari nama jurusannya saja sudah Desain Komunikasi Visual, mahasiswa yang bergelut di DKV pasti sering mendapat sentilan “Wah, anak desain, anak DKV”, dan sebagainya. Sedikit banyak timbul kebanggaan dalam diri, dan secara otomatis diceritakanlah hal-hal yang indah dalam DKV kepada calon mahasiswa yang bertanya kepada seniornya yang sudah terlebih dahulu merasakan perkuliahan DKV. Selain itu, gadget yang menyertai orang DKV juga dianggap keren oleh kalangan umum. Kamera DSLR yang menggantung di kalangan muda-mudi yang tren menjadi fotografer dadakan,laptop, smartphone, tablet, dan lain-lain. Terutama pada bidang fotografi, kamera DSLR yang semakin mudah dijangkau masyarakat, pengoperasiannya semakin mudah, dan semakin maraknya di tempat-tempat wisata maupun pusat kota ditemui orang-orang berkalungkan kamera DSLR tentunya dapat menarik perhatian tersendiri dan menimbulkan pertanyaan“Motret itu sekolahnya apa? Kok kelihatannya asik”, ini juga yang membuat para calon mahasiswa berbondong-bondong mencari informasi yang mengerucut pada jurusan Desain Komunikasi Visual. 

Trus… 
Dalam pemilihan jurusan perkuliahan, lebih baik jika dipertimbangan aspek-aspek minat dan bakat, tren masa depan dan realistis. Gegabah jika memilih jurusan perkuliahan hanya karena faktor musiman dan ikut-ikutan tren di lingkungan sekitar. Semakin berkembangnya pendidikan tinggi DKV secara kuantitas juga membuat persaingan antar mahasiswa maupun lulusan DKV semakin keras. Tiap tahun ribuan mahasiswa DKV mencari tempat untuk kerja praktek dan harus bersaing dengan sengitnya mengingat keterbatasan tempat yang tersedia di industri terkait. Demikian juga lulusan DKV harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan kesempatan kerja. DKV juga bukan jurusan yang enteng seperti apa yang dipikirkan khalayak umum. Pada intinya, pikirkan secara matang, jurusan apa yang akan dipilih, dan ingin menjadi apa setelah lulus nanti, jangan sampai salah pilih jurusan, karena dapat melunturkan semangat kuliah yang berkobar. 

Yup tadi bukan tulisan gue, nah sekarang baru tulisan gue, liat aja tulisan gue jelek begini. Oiya ngebahas DKV tadi udah pada tau kan lo lo semua? Itulah pilihan gue selapas SMA nanti, gue bakal pilih DKV sebagai jurusan gue dikampus, entah kampus mana. Gue emang suka banget sih liat design-design apalagi bikin-bikin design gitu, makanya ekskul gue pun juga gak jauh dari design, yaitu bikin majalah, dan gue ketuanya hehehe. Tapi emang bener sih yah, kalo lo semua nanti kuliah dan lo milih jurusan cumin karena ikut-ikutan atau pengen terlihat keren dimata temen-temen lo mendingan lo jadi artis aja sekalian gak usah kuliah. Karena percuma kuliah kek gitu mah, mending ikutin bakat, inget ya bakat! bukan nasi berkat. Oke sekian dulu deh postingan dari gue semoga bermanfaat, semoga mata lo gak sakit juga baca tulisan gue yang jelek.